Cara Mudah Membuat Mind Map

Apakah Mind Map itu? Bagaimanakah cara membuat Mind Map? Apa kelebihan dan keuntungan membuat Mind Map? Seperti apakah contoh Mind Map? More »

Konsep Pendidikan Karakter dalam Islam

Bagaimanakah konsep pendidikan karakter dalam Islam? Apa perbedaan pendidikan karakter menurut Islam dengan pendidikan karakter Barat? Bagaimanakah penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah Islam? More »

5 Kesalahan Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah

Apakah penerapan pendidikan karakter di sekolah sudah sesuai dengan konsep dan teorinya? Apakah Penerapan Pendidikan Karakter hanya trend saja? Ataukah sebuah keharusan bagi sekolah? More »

Bagaimanakah Penilaian Pendidikan Karakter seharusnya dilakukan?

Faktor paling sering diperdebatkan dalam diskursus pendidikan karakter adalah penilaian. Hal ini berkenaan dengan hasil akhir dari pendidikan karakter yang berupa tindakan moral, bukan berupa pemikiran atau gerakan yang dengan mudah dapat dinilai melalui kemampuan menulis jawaban dan mempraktekkan sebuah keterampilan yang kemudian diakumulasikan dalam bentuk angka More »

Bagaimanakah Cara Merancang Pembelajaran Yang Bermakna?

Sudahkan Anda membuat setiap pembelajaran Anda bermakna bagi Anda dan siswa? Apakah siswa Anda menikmati setiap pembelajaran yang Anda berikan? More »

 

Guru Mengeluh

Money Affilate
Sponsored Links

Guru mengeluhkan uang yang harus didapatkannya! Itulah berita yang menarik perhatian saya dalam dua hari terakhir ini. Ada keluhan karena menuntut tambahan gaji atau tunjangan, ada pula keluhan karena menuntut janji pemerintah yang belum dipenuhi. Tapi keduanya bermuara pada satu semangat, mengeluh!

Sebagai seorang guru, saya merenung sesaat. Mencoba memposisikan diri sebagai mereka yang mengeluh melalui protes-protesnya. Saya kemudian bertanya-tanya, berapakah sebenarnya rupiah yang pantas dibayarkan untuk menggaji seorang guru? Apakah bila deretan angka nol dibelakang angka pertama ditambah menjadi enam angka atau bahkan sembilan, cukup kah itu? Saya jadi teringat sebuah tulisan yang pernah saya share dengan guru-guru di sekolah saya. Tulisan itu berbicara juga tentang MENGELUH. Salah satu penggalannya lebih kurang seperti ini,

KELUHAN LAYAK DIPERTIMBANGKAN DAN MASUK DI AKAL KETIKA ITU DIBUAT OLEH ORANG YANG BENAR-BENAR PANTAS DIHARGAI. KELUHAN ITU TAK PERLU DIHIRAUKAN SAAT DIBUAT OLEH SESEORANG YANG MEMANG TAK LAYAK. KITA HARUS MEMPERTIMBANGKAN DAN MENINJAU KEMAMPUAN KITA SEBELUM MENGELUH.

Saya juga teringat kata-kata bijak seorang motivator perihal mengeluh. Katanya, ketimbang dibikin cape dengan mengeluh, mendingan tunjukkan saja bahwa kita memang layak dibayar lebih. Apalagi kalau merujuk pada salah satu firman Allah dalam Al-Qur’an yang bermakna, BERBUAT SAJA LAH, KELAK ALLAH DAN ORANG-ORANG BERIMAN AKAN MENILAI PERBUATANMU.

Saya setuju bahwa kebenaran harus diperjuangkan. Maka bila kita yakin bahwa menggaji guru dengan nominal yang besar adalah kebenaran, perjuangkanlah itu. Perjuangakanlah itu dengan semangat perjuangan, bukan keluhan. Etos perjuangan akan lebih memuliakan kita sebagai guru, sementara aroma keluhan justru merendahkan kemuliaan martabat guru. Sebagai pelaku utama pendidikan, bahkan ujung tombaknya, perjuangan guru untuk hak-haknya yang terabaikan mestilah dilakukan dengan semangat mendidik pula. Didiklah pemerintah oleh sikap kita sebagai guru, bahwa profesi guru patut dimuliakan. Atau dalam bahasa ekonomi, patut dibayar tinggi. Lalu mari serempak tunjukkan bahwa pemuliaan dan bayaran tinggi itu layak dialamatkan pada kita. Bukan karena kita paling keras suara tuntuannya. Bukan karena kita paling sering demonya. Bukan! Tetapi karena kita telah menunjukkan kualitas dan kesejatian profesi guru.

Lalu, bagaimana bila perjuangan itu tak kunjung membuahkan hasil? Gaji tetap, tidak naik. Tunjangan yang dituntut tetap tidak dibayarkan, bahkan dihapuskan. Bagaimana kalau itu yang terjadi? Mengeluhkan jawabannya?

Untuk menilai sesuatu secara bijak, pandangan kita harus diarahkan pada tiga arah, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Sekarang mari kita lihat kebijakan pemerintah tentang kesejahteraan guru dengan mengarahkan pandangan pada tiga arah tadi. Kita ada di posisi masa kini. Bila kita membandingkan kesejahteraan guru masa kini dengan masa lalu, manakah yang lebih menguntungkan? Kita kah yang menjadi guru di masa kini, ataukah para senior dan pendahulu kita yang menjadi guru di masa lalu? Jawabannya gampang bukan? Bukankah jawabannya adalah sesuatu yang mau tidak mau menempatkan kita dalam posisi bersyukur?

Memang kesimpulan kita akan lain dan berbeda ketika kita membandingkan kekinian kita dengan masa depan yang menjadi harapan dan idealism keguruan kita. Kesejahteraan guru masa kini memang belum mencapai kesejahteraan ideal profesi guru yang mulia itu. Begitu pun apresiasi masyarakat belum menunjukkan penghargaan yang ideal terhadap guru. Bila perhatian kita terfokus pada masa depan yang belum diraih dan belum pasti ini, maka MENGELUH adalah sebuah sikap yang sangat potensial muncul dari para guru. Namun menariknya, yang dikeluhkan itu sebenarnya bukan masa kininya, tetapi masa depan yang belum pasti.

Dalam sebuah tulisan motivasi disebutkan seperti ini, orang bijak tak pernah mengeluh. Mereka tak ada waktu untuk itu. Mereka tak mau menghabiskan energi untuk hal semacam itu. Mereka justru bekerja keras untuk merubah yang “tidak cukup” menjadi “cukup”. Maka, terakhir, seperti apa sih yang cukup dan yang tak cukup? Kita hanya mengeluh ini tak cukup ketika kemampuan kita tak berkembang, bertumbuh, dan mampu merubah yang tak cukup itu. Dengan kata lain, keluhan kita sebenarnya pelarian saja. Mereka yang penuh percaya diri dan pada kemampuannya, mereka yang bertekad untuk terus berkembang, bertumbuh dan berubah –tak pernah mengeluh.

Maka, berhentilah mengeluh, cukup ya cukup…Gunakan seluruh energi kita untuk untuk peningkatan kualitas keguruan kita dan pembuktian keberkualitasan itu, daripada memboroskan energi untuk mengeluh terus-menerus.

Tik email Anda di sini untuk berlangganan artikel

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan tulis komentar Anda atau Anda dapat berlangganan gratis RSS feed untuk mendapatkan artikel terbaru dari Blog Inspirasi. Untuk berlangganan melalui email silakan isi form di atas.

One Response to Guru Mengeluh

  1. Tjak Doel says:

    Betul, seburuk apapn keadaan yang kita hadapi memang sebaiknya jangan sampai mengeluh, karena mengeluh hanya akan membuat kita kehilangan semangat juang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.