Cara Mudah Membuat Mind Map

Apakah Mind Map itu? Bagaimanakah cara membuat Mind Map? Apa kelebihan dan keuntungan membuat Mind Map? Seperti apakah contoh Mind Map? More »

Konsep Pendidikan Karakter dalam Islam

Bagaimanakah konsep pendidikan karakter dalam Islam? Apa perbedaan pendidikan karakter menurut Islam dengan pendidikan karakter Barat? Bagaimanakah penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah Islam? More »

5 Kesalahan Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah

Apakah penerapan pendidikan karakter di sekolah sudah sesuai dengan konsep dan teorinya? Apakah Penerapan Pendidikan Karakter hanya trend saja? Ataukah sebuah keharusan bagi sekolah? More »

Bagaimanakah Penilaian Pendidikan Karakter seharusnya dilakukan?

Faktor paling sering diperdebatkan dalam diskursus pendidikan karakter adalah penilaian. Hal ini berkenaan dengan hasil akhir dari pendidikan karakter yang berupa tindakan moral, bukan berupa pemikiran atau gerakan yang dengan mudah dapat dinilai melalui kemampuan menulis jawaban dan mempraktekkan sebuah keterampilan yang kemudian diakumulasikan dalam bentuk angka More »

Bagaimanakah Cara Merancang Pembelajaran Yang Bermakna?

Sudahkan Anda membuat setiap pembelajaran Anda bermakna bagi Anda dan siswa? Apakah siswa Anda menikmati setiap pembelajaran yang Anda berikan? More »

 

Hijriyah: Sekadar Kalenderkah?

Sponsored Links

Ada dua pemandangan kontras ketika membicarakan tahun baru. Pemandangan glamour, foya-foya dan hingar-bingar menyambut tahun baru masehi. Dan pemandangan syahdu, sederhana, dan khidmat menyambut tahun baru hijriah. Itulah memang kenyataan yang dihadapi kaum muslimin di Indonesia, atau bahkan di seluruh belahan bumi ini.

Hidup dalam bingkai hari, minggu, bulan, dan tahun itulah fakta yang kodrati. Dari sisi ini tidak ada masalah apapun dengan cara apapun kita menetapkan hari dan menghitung tahun. Persoalan menjadi berbeda ketika nilai-nilai paling pribadi dari seseorang tak terhindarkan untuk ikut menilai bahkan menghakimi.

Sebagai masyarakat yang hidup dalam cengkraman Barat baik secara budaya maupun politik, penggunaan kalender masehi sulit dihindari oleh masyarakat muslim Indonesia. Secara kenegaraan misalnya, perhitungan resmi tentang hari kerja, hari nasional, hari besar, hari libur, tahun anggaran, dan perhitungan umum lainnya yang berkaitan dengan kepentingan publik menggunakan perhitungan masehi. Dari  Januari sampai Desember. Dari 1945 sampai 2011. Hal ini sulit dihindari.

Pada sisi lain, sebagai muslim penggunaan kalender Hijriyah juga tak bisa dihindarkan. Ada kewajiban puasa yang hanya bisa dihitung secara hijriyah. Ada kewajiban haji yang juga ditentukan waktunya berdasarkan penanggalan Hijriyah. Ada Idul Fitri dan Idul Adlha sebagai hari raya yang tentu saja jatuh pada hari dan bulan dalam kalender Hijriyah.

Mendua, itulah fakta yang dihadapi. Namun harus diakui bahwa yang mendominasi adalah kalender Masehi. Tak jarang, kembali pada Hijriyah sebagai kalender bagi umat Islam hanya berlaku 1 hari saja. 1 hari untuk 1 Ramadhan, 1 hari untuk 1 Syawal, 1 hari untuk 10 Dzulhijah. Untuk momen yang lain meski sejatinya milik kalender Hijriyah, tetapi menjadi paradoks ketika kedua penanggalan dikawinkan paksa sedemikian rupa. Tentang Maulid Nabi misalnya, kita sering mendengar pembicaraan, “Maulid Nabi saw tahun ini jatuh pada 15 Pebruari…”  Begitu pula dengan Isra Mi’raj.

Tahun Baru

Sejatinya pergantian waktu dari detik ke menit hingga dari hari ke hari adalah tanda kekuasaan Allah yang harus dengan cerdas dibaca dan disikapi. Begitu pula dengan pergantian tahun. Dengan metode penanggalan apapun kita menghitungnya, pergantian tahun tetap saja menjadi pertanda kekuasaan Allah yang akan terus memutar hari tanpa ada kuasa apa pun yang bisa menolaknya.

Meski demikian kita mendapatkan dua wajah yang sangat kontras satu dengan lainnya. Wajah penuh khusyu, syahdu, bahkan tak jarang tangis yang sendu menghiasi perpisahan dan perjumpaan dengan tahun Hijriyah. Paling tidak, inilah yang kentara di sore dan malam hari 1 Muharam dari masyarakat muslim yang sadar tentang pergantian tahun hijriyah. Doa akhir tahun dibacakan jelang Maghrib. Lalu selepas Maghrib, doa awal tahun dipanjatkan penuh harapan. Meskipun, besoknya menghitung hari kembali secara Masehi.

Wajah lainnya tampak hingar bingar, diramaikan teriakan dan aneka bunyi-bunyian, dan ekspresi kegembiraan dan kebebasan tepat di tengah malam, menghiasi pergantian tahun masehi. Kalaulah tidak semua warga, yang pasti demikianlah pemandangan masyarakat kebanyakan mengawali 1 Januari dengan dukungan ekspos media elektronik yang kian meramaikan. Demikianlah adanya. Entah karena tahun Hijriyah terkait dengan warisan sejarah Islam sehingga juga mewariskan nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan dalam menyambutnya. Dan tahun Masehi terkait dengan warisan Romawi sehingga juga mewariskan nilai-nilai hedonis dan kebebasan.

Implikasi

Sekilas fenomena poligami kalender ini tidak menyisakan masalah besar. Padahal, dengan telaah yang mendalam ada bom waktu yang siap meledak kapanpun. Bom pertama dari dominasi Masehi terhadap Hijriyah adalah pengabaian kaum muslimin terhadap sejarah Islam. Sebagai metode penanggalan resmi umat Islam, kalender Hijriah sarat dan kaya dengan memori sejarah perjalanan Islam. Semakin abai terhadap kalender Hijriyah, seorang muslim akan semakin lalai dari mengetahui dan memahami sejarahnya. Bila sejarah Islam telah terlupakan sedemikian rupa, maka tak akan tersisa lagi kebanggaan terhadap keagungan dan kejayaan Islam. Pada titik inilah, runtuhlah keutuhan diri sebagai muslim.

Bila sudah lupa kapan Rabi’ul Awwal tiba, lupa pula kapan Rasulullah saw lahir ke dunia. Lupa terhadap sejarah kelahiran Rasul saw menjadi sebab awal lupa akan sejarah hidupnya. Kemudian melupakan perjuangannya. Dan akhirnya melupakan keteladanan darinya yang menjadi sukses dan bahagia menjalani hidup. Demikian dapat diilustrasikan dampak pengabaian terhadap penanggalan Hijriyah sebagai kalender umat Islam. Bahkan sebab terbesar sikap acuh yang masih ditunjukkan sebagian kaum muslimin terhadap tahun baru Hijriyah adalah karena ketidaktahuan terhadap sejarah Islam itu sendiri. Kebodohan tentang sejarah seperti ini pada gilirannya akan menjauhkan umat Islam dari Islamnya. Jadi jelas, Hijriyah bukan sebatas kalender tapi sejarah.

Bom kedua kedua berkaitan dengan penanggalan Hijriyah yang sangat banyak terkait dengan pelaksanaan ibadah dalam Islam. Puasa Ramadhan, Puasa Arafah, Puasa Asyura, Puasa Ayyamul Bidl (Tengah Bulan), Puasa Muharam, Nishfu Sya’ban, Lailatul Qadar, Shalat Ied, Haji, Qurban, bahkan penentuan baligh sangat terkait dengan kalender Hijriyah. Diperlukan persiapan yang baik untuk ibadah-ibadah tersebut. Tapi persiapan ini akan menjadi sulit bila kita tidak tahu kapan waktu untuk ibadah tersebut datang. Umumnya kita  baru tahu dan tersadar sehari menjelang hari untuk ibadah tersebut datang. Persiapan mental, materil, dan latihan, serta persiapan pun tidak dilakukan. Inilah bom waktu kedua, pengabaian terhadap kalender Hijriyah berakibat terhadap pelemahan etos ibadah umat Islam.

 

Do’a Musiman

Do’a akhir dan awal tahun telah populer di kalangan umat Islam. Doa inilah yang menghiasi wajah syahdu penyambutan kedatangan setiap tahun baru Hijriyah. Banyak yang mengira bahwa do’a ini terwariskan langsung dari Rasululullah saw. Padahal tidaklah demikian. Dengan menggunakan logika sejarah, tentu saja do’a ini baru muncul setelah penanggalan Hijriyah dibakukan dan perhitungan tahun Hijriyah diberlakukan. Sementara penanggalan dan penetapan tahun Hijriyah baru terjadi pada masa kepemimpinan Sayidina Umar bin Khatab RA. Jadi do’a ini adalah cetusan jiwa suci para ulama kepada Allah dalam mengakhiri dan mengawali pergantian tahun. Karena indahnya do’a ini kemudian dibukukan dan diwariskan dari generasi ke generasi tanpa kejelasan siapa pengucap pertamanya.

Merujuk pada kebiasaan Rasulullah saw, maka sebenarnya Islam mengajarkan lebih dari sekadar do’a awal dan akhir tahun. Dalam hal pergantian waktu, paradigm Rasul saw bukan lagi dari tahun ke tahun, melainkan dari pagi ke sore, hari ke hari, dan bulan ke bulan. Lebih cepat bergerak. Itulah karenanya dalam do’a dan dzikir yang diwariskan Rasulullah saw yang akan kita kita temukan bukan do’a awal atau akhir tahun. Tetapi do’a mengawali hari yang dibaca selepas Subuh. Para  ulama menyebutnya  Adzkarul Shabah. Kemudian do’a mengakhiri hari yang dibaca jelang Maghrib. Para ulama menyebutnya Adzkarul Masa. Kemudian kita pun akan menemukan kebiasaan Rasul mengenai do’a untuk mengawali setiap bulan baru. Inilah do’a Hilal. Demikianlah Rasulullah meskipun pada masanya belum ada penanggalan tahun, tetapi semangat membaca dan menyikapi pergantian tahun telah tumbuh  dan merasuk ke dalam relung jiwa kaum muslimin di jamannya.

Karena ini pula lah, meskipun belum ada penanggalan Hijriyah pada masa Rasul saw, tetapi keagungan dan kemuliaan bulan Muharam begitu kentara di jaman Nabi. Bukan dengan kemeriahan bumi  melalui pesta pora dan beragam perayaan. Tetapi dengan kemeriahan langit melalui puasa sunat, dzikir, dan penjagaan diri dari sekecil apapun pelanggaran pada aturan Allah swt.

Tik email Anda di sini untuk berlangganan artikel

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan tulis komentar Anda atau Anda dapat berlangganan gratis RSS feed untuk mendapatkan artikel terbaru dari Blog Inspirasi. Untuk berlangganan melalui email silakan isi form di atas.

2 Responses to Hijriyah: Sekadar Kalenderkah?

  1. supri says:

    nice artikel…..
    saya kira penanggalan bulan/ hijriyah punya kelemahan fundamental, misal:
    1. bulan tidak bisa di jadikan patokan musim tanam/ pertanian.
    2. bulan tidak konsisten, jumlah bulan bisa berbeda. karena nya susah menentukan hr libur berdasar bulan.
    saya kira penanggalan masehi tetaplah acuan utama. persoalan degradasi keimanan dan religiusitas umat islam adalah persoalan kompleks. sistem penanggalan islam sendiri pun penuh persoalan. misalnya standarisasi yang belum ada. trims

  2. Kang Marfu says:

    terima kasih atas komentarnya. Saya malah melihat 2 alasan tadi tidak fundamental untuk “menolak” penanggalan dengan hijriah. Urusan libur dan bertani saya kira bisa diselesaikan dengan penanggalan apapun.

    Saya percaya bahwa penanggalan adalah bagian penting yg akan meningkatkan komitmen keislaman seseorang, meskipun tentu bukan satu-satunya cara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.