Cara Mudah Membuat Mind Map

Apakah Mind Map itu? Bagaimanakah cara membuat Mind Map? Apa kelebihan dan keuntungan membuat Mind Map? Seperti apakah contoh Mind Map? More »

Konsep Pendidikan Karakter dalam Islam

Bagaimanakah konsep pendidikan karakter dalam Islam? Apa perbedaan pendidikan karakter menurut Islam dengan pendidikan karakter Barat? Bagaimanakah penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah Islam? More »

5 Kesalahan Penerapan Pendidikan Karakter di Sekolah

Apakah penerapan pendidikan karakter di sekolah sudah sesuai dengan konsep dan teorinya? Apakah Penerapan Pendidikan Karakter hanya trend saja? Ataukah sebuah keharusan bagi sekolah? More »

Bagaimanakah Penilaian Pendidikan Karakter seharusnya dilakukan?

Faktor paling sering diperdebatkan dalam diskursus pendidikan karakter adalah penilaian. Hal ini berkenaan dengan hasil akhir dari pendidikan karakter yang berupa tindakan moral, bukan berupa pemikiran atau gerakan yang dengan mudah dapat dinilai melalui kemampuan menulis jawaban dan mempraktekkan sebuah keterampilan yang kemudian diakumulasikan dalam bentuk angka More »

Bagaimanakah Cara Merancang Pembelajaran Yang Bermakna?

Sudahkan Anda membuat setiap pembelajaran Anda bermakna bagi Anda dan siswa? Apakah siswa Anda menikmati setiap pembelajaran yang Anda berikan? More »

 

12 Tanggapan Terhadap Rancangan Kurikulum 2013

Sponsored Links

12 catatan saya berikut ini telah dikirimkan secara resmi melalui website dan surel Kemdikbud.

1

Sebagai uji publik seharusnya setiap sekolah atau setidaknya 1 sekolah negeri dan 1 swasta untuk setiap jenjang di setiap kabupaten dihubungi secara resmi untuk memberikan tanggapan dan pemikirannya terkait kurikulum 2013. Sekolah-sekolah tersebut kemudian mengirimkan tanggapannya secara tertulis melalui surel. Dengan demikian maka aspirasi public akan benar-benar terjaring sehingga tanggapan yang diberikan bisa dianggap representative. Dialog virtual yang disediakan pada website kemdikbud tidak bisa jadi bisa dijadikan tanggapan yang representatif.

2

Adakan forum kepala sekolah yang memastikan semua kepala sekolah se-Indonesia memberikan kontribusinya pada uji publik kurikulum 2013 ini. Ini membutuhkan waktu lama, tetapi demikianlah seharusnya sebuah perubahan besar dilakukan. Tidak instan, tetapi benar-benar matang dan berproses.

3

Halaman 16 Dokumen Rancangan Kurikulum 2013 tentang kesenjangan kurikulum: tidak tepat bila diidentifikasi bahwa pada kondisi saat ini sekolah mempunyai kebebasan dalam pengelolaan kurikulum. Sejauh ini otonomi sekolah tidak pernah benar-benar terjadi. Pada prakteknya, kebijakan pemerintah baik secara langsung melelaui kemdiknas atau melalui aparat pemerintah (aparat dan pengawas dinas pendidikan misalnya) justru sering kali mereduksi otonomi sekolah. Akibatnya, yang terjadi bukanlah kurikulum satuan pendidikan tetapi tetap kurikulum yang diseragamkan di tiap satuan pendidikan. Identifikasi yang salah ini membuat saya khawatir bahwa setelah diberlakukannnya kurikulum 2013 pemerintah akan semakin mereduksi otonomi sekolah untuk mengembangkan kurikulum. Seharusnya identifikasi masalah adalah hal yang sangat urgen dalam sebuah rencana perubahan.

4

Ada yang luput dianalisis sebagai akar masalah kelemahan kurikulum nasional, yaitu sekulerisasi dan dualisme pendidikan. Selama kurikulum nasional sampai kurikulum sekolah masih bersifat sekuler dan dualisme, selama itu pula integritas siswa dan pembentukan karakter yang menjadi tujuan nasional pendidikan akan sulit dicapai.

5

Tentang muatan lokal yang akan dijadikan materi pembahasan seni budaya dan prakarya, secara tidak langsung konsep ini membatasi sekolah untuk mengembangkan muatan lokal sesuai dengan potensi dan ciri khasnya. Padahal kondisi di lapangan sangat memungkinkan sekolah menyusun muatan lokal yang kompetensi serta materinya tidak bisa dipaksakan sebagai materi seni budaya atau prakarya. Semangat penyederhanaan yang menjadi spirit rancangan Kurikulum 2013 seharusnya tidak berarti menjadi serba penggabungan dan pengurangan, terutama hal seperti ini. Konsep ini akan sangat rancu bila diterapkan. Biarkan sekolah mengembangkan muatan lokal secara otonom dengan disertai rancangan standar kompetensi, kompetensi inti, dan kompetensi dasar.

6

Tentang penjurusan saya sangat setuju bahwa salah satu dampak negatif penjurusan saat ini adalah terbatasnya kesempatan siswa untuk memilih program studi di PT. Banyak siswa yang secara akademik mampu mengikuti prodi tertentu misalnya, menjadi hilang kesempatannya karena jurusan yang diikutinya dianggap tidak serumpun atau kompatibel. Terbentuknya  anggapan yang hampir menjadi pola pikir dan sikap di semua sekolah bahwa jurusan tertentu adalah yang terbaik dan jurusan lainnya adalah “sisa”. Hal ini didukung oleh kebijakan yang menentukan bahwa jurusan IPA misalnya, bisa memilih semua prodi di PT sementara jurusan lainnya tidak.

7

Mengenai rancangan struktur kurikulum SMA, secara konsep opsi kedua yaitu kurikulum berdasarkan minat pada pendidikan lanjutan bisa jadi jalan tengah sekaligus solusi dari kontradiksi antara pola penjurusan dengan pola SKS. Bila sistem penjurusan pada tingkat SMA tidak dirubah, maka perubahan kurikulum 2013 kehilangan maknanya. Maka opsi perubahannya adalah: Kurikulum berdasarkan minat pada pendidikan lanjutan, atau Paling tidak penjurusan dilakukan lebih awal dari sejak semester II kelas X dengan catatan disertai kebijakan pada setiap PT untuk menerima siswa dari jurusan manapun untuk memilih prodi apapun.

8

Tentang rancangan kurikulum 2013 untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), secara umum saya setuju dan sangat mengapresiasi. Kurikulum yang sekarang diterapkan memang terlalu gemuk dan padat dan abai terhadap tugas-tugas perkembangan emosional dan spiritual siswa.

9

Terkait dengan RPP yang merupakan bagian penting dari implementasi kurikulum nantinya, fenomena copas alias copy paste tampaknya telah menjadi gejala nasional. Untuk itu, BSNP sebaikanya tidak menerbitkan contoh, sebab pola pikir pengawas dan guru masih menganggap contoh sebagai “kitab suci” yang harus dipatuhi apa adanya. Biarkan sekolah menyusun dan merancang RPP (Lesson Plan) sesuai dengan kreatifitas dan visinya. BSNP cukup membuat instrumen untuk dikembangkan sekolah dan selanjutnya sekolah secara kreatif dan otonom mengembangkan RPP. Bila kurikulum 2013 tidak disertai perubahan paradigma RPP, kurikulum ini akan berujung dan bernasib sama dengan kurikulum sebelumnya sehebat apapun konsepnya.

10

Kompetensi pengawas mata pelajaran sebagai bagian penting dari implementasi kurikulum 2013 nantinya, selama ini cenderung rendah dan lambat dalam akses informasi dan isu-isu pendidikan serta sering salah dalam menafsrikan kebijakan pemerintah. Pengawas hampir selalu menjadi unsur yang mendorong terjadinya uniformitas kegiatan dan kurikulum sekolah-sekolah. Kekakuan sekolah dalam mengaktualisasikan dirinya sering kali bermula dari faktor pengawas ini. Perubahan kurikulum perlu memperhatikan aspek ini.

11

Terkait dengan penerapan pendidikan karakter di sekolah yang sepertinya masih akan menjadi isu pendidikan nasional setelah penerapan kurikulum 2013 nanti, saya mencermati ada beberapa kesalahan langkah dalam penerapannya sebagai berikut:

a>

Penerapan pendidikan karakter tidak diawali dengan perumusan yang jelas dan tegas tentang karakter inti yang akan dibangun atau dikehendaki oleh sekolah. Dalam diskursus pendidikan karakter ini disebut dengan core values. Ketika ditanya, “karakter apa  yang akan dibangun?” banyak sekolah kebingungan menjawabnya. Atau menjawab dengan jawaban yang ngambang dan bias. demikian pula dengan pemerintah melalui Depdiknas yang juga terlalu luas dan akhirnya tidak pasti ketika menetapkan 18 karakter yang harus dimiliki siswa. Konsep yang tidak jelas dan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan karakter. Dalam rumusan 18 tersebut hal yang sebenarnya bukan karakter dalam konteks pendidikan karakter masih dijejalkan dengan paksa. Seharusnya, sekolah memiliki otonomi untuk merumuskan karakter inti yang akan dibangunnya, bukan dipaksa harus menerapkan 18 karakter yang terlalu bias dan mengambang tersebut. Misalnya, sekolah A menetapkan akan membangun karakter berikut: Jujur, Santun, Peduli, dan Tanggung Jawab. Setiap sekolah boleh menetapkan karakter inti yang berbeda.

b>

Pendidikan karakter tidak diawali dengan promosi program kepada pengguna jasa pendidikan dan stakeholder. Dalam hal ini adalah orang tua, masyarakat, korporasi/instansi, dan pemerintah. Setelah melakukan perumusan yang jelas dan tegas secara otonom, sekolah semestinya mempromosikan karakter inti yang akan dibangun itu, terutama kepada orang tua siswa. “Ini lho karakter yang akan dibangun di sekolah kita. Bapak/Ibu silakan mengawasi dan mengevaluasi apakah karakter ini nantinya muncul dalam diri anak-anaknya atau tidak. Tolong bantu dan kawal kami dalam program ini.” Demikian misalnya, ditegaskan oleh kepala sekolah kepada orang tua siswa, masyarakat, dan pemerintah. Tanpa promosi karakter, pendidikan karakter hanya akan menjadi tanggung jawab sekolah belaka padahal tidak demikian adanya. pendidikan karakter adalah tanggung jawab semua. Tanpa promosi pula bahkan tidak mustahil pendidikan karakter hanya lipstik belaka.

c>

Ini adalah kesalahan paling umum yang dilakukan para guru. Setiap kali mendengar kata pendidikan maka yang tersirat dibenaknya adalah mata pelajaran. Atau dengan kata lain, pendidikan diidentikkan dengan mata pelajaran. Pendidikan lingkungan hidup dipahami sebagai mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup (PLH), pendidikan keselamatan lalu lintas diartikan mata pelajaran keselamatan lalu lintas, pendidikan anti korupsi ditafsirkan mata pelajaran pendidikan anti korupsi. Begitupan pendidikan karakter dianggapnya sebagai mata pelajaran baru. Kesalahan ini tentu akibat dari ketiadaan pemahaman yang komprehensif terhadap pendidikan karakter. Akhirnya menjadi semakin gemuklah daftar nama mata pelajaran dan beban belajar anak di sekolah. Pendidikan karakter adalah sebuah program bukan mata pelajaran. Sebagai program, pendidikan karakter semestinya merasuki, mewarnai, dan menjiwai seluruh komponen dan istrumen pendidikan di sekolah. Maka sejatinya, semua guru adalah guru karakter. Semua kegiatan adalah kegiatan karakter. Semua staf adalah staf karkater. Semua pemandangan adalah pemandangan karakter. Hingga pembantu sekolah dan tukang jualan pun memiliki peran karakter.

d>

Menurut saya ini adalah kesalahan paling menggelikan. Dengan dalih integrasi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran, maka dibuatlah kebijakan Silabus dan RPP berbasis karakter. Isinya, 18 karakter amanat pemerintah harus dicantumkan dalam Silabus dan RPP. Banyak guru dan kemudian sekolah merasa telah menerapkan pendidikan karakter dengan cara ini. Padahal bila dikaji dan ditelaah secara seksama pencantuman 18 karakter tersebut sama sekali tidak menyiratkan integrasi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran. Sangat  mudah dan instan, cukup dengan menambahkan komponen “Karakter Yang Dibentuk” pada RPP. Selesai. Bila yang dimaksud adalah integrasi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran atau ke dalam kegiatan belajar mengajar, maka seharusnya karakter inti yang dibangun sekolah itu termuat secara menyatu dengan indikator atau tujuan pembelajaran, bukan  sebagai daftar khusus yang sekadar tempelan. Sebab  pada indikator dan tujuan belajar itulah hasil belajar diukur.

e>

Tidak dipahami secara ajeg beda karakter dengan kebiasaan, keterampilan, dan kompetensi. Dalam 18 rumusan karakter amanat Depdiknas keempat hal yang berbeda bercampur aduk. Karakter dalam diskursus pendidikan karakter setidaknya harus memenuhi dua syarat berikut: 1) berupa perilaku atau sikap yang dibutuhkan untuk berinteraksi dengan orang lain. Maka membaca bukan karakter sebab itu hanya bersifat internal tidak untuk berinteraksi; 2) sikap tersebut bersifat universal dan transenden. Artinya bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat melampaui perbedaan suku, ras, dan agama. Maka cium tangan misalnya bukan karakter sebab bagi suku tertentu mungkin tidak berlaku. Aspek karakter bukan pada cium tangan tetapi pada sikap hormat. Sebab suku, ras, dan agama apapun sama-sama mengajarkan sikap hormat.

12

Pendidikan Agama Islam yang merupakan mata pelajaran paling strategis untuk membentuk karakter siswa, sayang tidak banyak disoroti dalam rancangan kurikulum 2013 ini. Saya berharap pada perubahan penyusunan SKL, KD dan KI nanti, kurikulum PAI digodok secara matang. Sebagai saran, pengelompokkan tema pada Kurikulum PAI seharusnya bertumpu pada pembentukan tauhid yang mantap sebagai landasan utama pembentukan karakter, dan pada pemahaman fiqih sebagai landasan utama ekspresi keislaman melalui ibadah-ibadah dan amaliah. Adapun tema Al-Qur’an dan Hadits disesuaikan dengan tema tauhid dan fiqih tersebut sebagai landasan dalilnya. Selanjutnya Sebagai sebuah “pendidikan agama” maka dalam kurikulum 2013, PAI pun seharusnya dipola untuk terintegrasi dengan semaua mata pelajaran. Pola integrasi dapat mengikuti pola yang dirancang untuk IPA dengan IPS dan pola TIK dengan semua mata pelajaran. Bukankah iman dan takwa sebagai tujuan pendidikan nasional harus menjadi tanggung jawab semua guru dalam semua mata pelajaran?

Bagaimana dengan pendapat Anda? Ayo segera berikan tanggapan dan kawal terus rancangan pengembangan kurikulum 2013.

Tik email Anda di sini untuk berlangganan artikel

Jika Anda menyukai artikel ini, silakan tulis komentar Anda atau Anda dapat berlangganan gratis RSS feed untuk mendapatkan artikel terbaru dari Blog Inspirasi. Untuk berlangganan melalui email silakan isi form di atas.

6 Responses to 12 Tanggapan Terhadap Rancangan Kurikulum 2013

  1. Andi Hanuladi says:

    Salah satu kebijakan kurikulum 2013 yang meresahkan adalah pemusnahan mapel TIK SMP. Ini memberi gambaran nyata bahwa generasi penerus bangsa kita semakin diarahkan menjadi “budak pengguna teknologi” dari bangsa barat, bukan “pencipta teknologi” kedepan.
    Penguasa kebijakan negara kita sesungguhnya sibuk dengan konsep “bagaimana menggunakan” TIK secara maksimal dalam semua aspek kehidupan melalui konsep pembelajaran. Padahal teknologi terus berkembang, bayangkan bagaimana makin sibuknya nanti. Mapel TIK seharusnya semakin dikembangkan ke arah yang lebih cerdas, dengan titik arah yang jelas, motivatif, kreatif dan aplikatif. Sesungguhnya TIK bukan hanya mengajarkan menu dan icon pada program aplikasi seperti yang selama ini kita lihat di jenjang SMP. Namun semestinya disempurnakan dan dikembangkan untuk menciptakan generasi bangsa yang memiliki kedewasaan moral dalam menghadapi derasnya perkembangan teknologi, memiliki kebijakan teknologi, terampil, dan membangun filosofi diri. Seharusnya TIK malah disempurnakan menjadi perintis misi generasi penerus yang mau “menciptakan” terobosan teknologi baru, bukan hanya sekedar “pengguna” seperti selama ini. Jadi kesimpulannya dalam hal ini, kurikulum baru ini adalah produk yang “kreatif” dan efektif, namun kurang dewasa dan tidak punya misi filosofis unt merintis jiwa inovatif.. Generasi penerus kita ditempatkan pada level rendah yang hanya disibukkan untuk mendayagunakan teknologi, bukannya membangun misi kedepan sebagai pencipta teknologi yang lebih inovatif dari pada majikan kita sekarang (bangsa barat). Kita akan selamanya menjadi budak teknologi bangsa barat..

  2. fathurrasyida says:

    saya berharap kurikulum 2013 tetap menampilkan mata pelajaran TIK disamping mata pelajaran lain yg jumlah jamnya di tambah, sebab dengan adanya anak kita diberikan pelajaran TIK mereka sedikit mengerti tentang bagaimana cara kerja komputer dan bagaimana membuat program atau memodivikasi sebuah program , jadi tak cuma bisa jadi pemakai aja .

    • Kang Marfu says:

      Saya setuju, TIK harus tetap tampil sebagai mata pelajaran, tetapi dengan orientasi skill ke-komputer-an tidak seperti kurikulum yang sekarang berjalan.

  3. fathurrasyida says:

    saya juga punya usul agar sekolah sekolah yg jauh dari wilayah perkotaan itu mohon diperhatika terusama sarana dan prasarana, karena jauh kami di kalimantan itu rata rata sekolah di desa itu tidak punya fasilitas lab bahasa, pagar sekolah, perpustakaan yg lengkap, ruang mushala dan buku buku paket pelajaran yg sangat kurang, sehingga org tua siswa lebih memilih menyekolahkan anaknya ke kota bagi yg mampu, selain itu juga guru guru dan tata usahanya hampir tidak pernah mendapatkan pelatihan yg berkaitan dengan mutu sekolah, paling juga cuma sekedar MGMP saja bagi guru.

  4. Whereas low-priced is normally preferential, specifically in occasions like this when there is certainly uncertainty & instability – the cheaper option is often not the top option, for a number of reasons, and this is especially true when it comes to Search engine optimisation solutions.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.